FENOMENA KATA “AFWAN” DI KALANGAN ADK

Sebuah pemandangan yang cukup mengecewakan bagi panitia dalam sebuah acara besar, ketika para peserta dan tamu undangan dari acara tersebut satu per satu meninggalkan ruangan acara tersebut dengan ekspresi ketidakpuasannya pada acara tersebut. Entah kenapa, panitia yang berada di tempat pada waktu itu hanya beberapa orang saja, dari yang seharusnya berjumlah puluhan orang. Acara itu seharusnya telah dimulai, namun beberapa orang panitia itu masih terlihat mundar – mandir mendekorasi tempat, menghubungi pemateri, dan sibuk mencari orang yang siap untuk menjadi MC, dan moderator dalam acara ini, sementara ruangan tersebut telah dipenuhi para pesertanya.
Untuk tahap persiapan dan pelaksanaan acara tersebut, bisa dikatakan panitia itu gagal total. Hingga ketua panitia pun berinisiatif dengan mengadakan rapat evaluasi panitia. Dalam rapat itu dihadiri oleh semua panitia acara tersebut. Ketua panitia pun mencoba untuk meminta klarifikasi dari setiap anggotanya yang tidak hadir pada saat acara tersebut berlangsung. Satu per satu anggota panitia itu menyampaikan alasan – alasan atas ketidakhadirannya tersebut.
“Afwan akhi, ana harus menyelesaikan amanah ana yang lainnya…”, jawab seorang akhwat anggota panitia tersebut.
“Afwan banget ya, ana tidak bisa menyampaikan alasan ana. Insya Allah alasan ana syar’i koq..”, jawaban salah satu panitia ikhwan yang tidak hadir pada saat acara itu. Semuanya memberikan bermacam alasan, dan tidak lupa mengucapkan…
“Afwan ya akhi…”
Sepotong kalimat di atas mungkin sudah tidak asing lagi di telinga para kader aktivis dakwah, terutama dalam interaksi para Aktivis Da’wah Kampus (ADK). Kalimat ini bisa dikatakan sebagai sebuah kalimat “pamungkas” yang senantiasa dibubuhi dalam setiap kalimat yang disampaikan seorang ADK. Tidak tanggung – tanggung, kalimat ini muncul sebagai pembuka kalimat pendapat seorang ADK dalam rapat – rapatnya, dalam SMS, bahkan kalimat ini begitu banyak menggaung dalam agenda – agenda yang Laporan Pertanggungjawaban suatu bidang dari suatu Lembaga Da’wah Kampus (LDK).
“Si Afwan itu yang mana orangnya bang?? Koq dari tadi disebut – sebut terus..??”, celetupan lugu dari seorang pemuda yang baru bergabung dalam suatu LDK tersebut kepada seorang seniornya. Inilah bentuk reaksi dari seorang ADK muda yang belum terlalu mengerti dengan budaya dari lingkungan ini. Biasanya, kalimat ini disampaikan oleh seseorang untuk menjaga kesantunannya dalam menyampaikan argumennya di dalam forum – forum para ADK.
Memang argumen yang dikemukakannya bertentangan dengan pendapat temannya dalam satu forum itu, tetapi dengan “dibumbui” dengan kalimat “Afwan sebelumnya akhi..” maka argumen yang disampaikannya itu akan terdengar lebih santun dan dapat diterima. Beginilah budaya bicara antara para ADK, ketika setiap orangnya selalu menjaga perasaan lawan bicaranya.
Suatu budaya yang perlu untuk dipertahankan. Namun yang menjadi masalah bagi saya ialah ketika kalimat “Afwan ya Akhi / Ukhti..” ini menjadi sebuah kalimat “pamungkas” dalam lingkup pekerjaan yang jelas – jelas menjadi tanggung jawabnya. Kalimat ini seolah – olah telah memberikan pembenaran pada seseorang untuk dapat memberikan jawaban yang benar dan melepaskannya dari tanggung jawab yang dipercayakan padanya.
Begitu cepat rasa bersalah itu berlalu. Hingga kesalahan dan kelalaian yang telah dilakukannya itu telah dibayar dengan kata “Maaf”. Inilah fenomena yang begitu sering terjadi dalam kinerja kita. Hasil kerja kita yang tidak optimal terkadang dianggap sebagai ujian dalam perjalanan da’wah ini. Tetapi kita jarang menelaah kesalahan dan kelalaian apa yang telah kita lakukan, hingga membuat hasil dari agenda – agenda da’wah yang kita usung tidak seperti yang kita harapkan.
Mari kita hilangkan budaya “Afwan ya Akhi / Ukhti..” saat bekerja dan berkarya dalam wilayah yang menjadi tanggung jawab kita. Amanah yang dipercayakan pada kita terlalu mahal jika hanya dibayar dengan sepotong kalimat ini. Bahkan kita harus membayar mahal atas kesalahan dan kelalaian yang kita lakukan terhadap amanah yang dipercayakan pada kita.

asyharizzone.wordpress.com

Satu komentar (+add yours?)

  1. someone
    Agu 25, 2009 @ 12:05:18

    Masih mending ada kata afwan akh,drpada udh ga amanah ga tw diri pula n ga ngerasa bersalah lagi. Sikapi kata afwan dgn positif jgn slalu memandang dr sisi negatif.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.